Faebook
Cerita Wayang

Prabu Wisrawana (Prabu Danaraja)

Prabu Lokawana yang adalah generasi ketiga dari Prabu Andanapati menurunkan seorang putri bernama dewi Lokawati. Ia menjodohkan putrinya dengan Resi Wisrawa yang adalah putra dari Resi Supadma (generasi ketiga Resi Wasista). Jadi antara Resi Wisrawa dan Dewi Lokawati masih terjalin pertalian saudara yang kemudian lahir Prabu Wisrawana (Prabu Danaraja).

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu


Tersebutlah sebuah negara bernama Lokapala. Yang menjadi raja adalah seorang pemuda gagah sakti mandraguna, pandai dalam olah keprajuritan bernama Wisrawana atau juga yang bergelar Prabu Danaraja/Danapati. Rakyat dan bala tentara Lokapala terdiri dari bangsa manusia dan raksasa. Lokapala merupakan salah satu kerajaan tertua, sebelum pemerintahan dipimpin oleh Prabu Danaraja, dahulunya kerjaan ini dipimpin oleh para leluhurnya. Pendiri Lokapala sendiri adalah Prabu Andanapati yang merupakan putra dari Batara Sambodana (anak Batara Sambu).

Sanghyang Nurrasa (Nur Rahsa)

Setelah lama berkuasa di Kahyangan Malwadewa, Sanghyang Nurcahya yang telah dikarunia seorang putra dengan Dewi Nurrini (Dewi Mahamuni), selanjutnya menyerahkan tahta Malwadewa kepada putranya yang telah beranjak dewasa, Sanghyang Nurrasa.
Selain menyerahkan kahyangan Malwadewa, Sanghyang Nurcahya juga menyerahkan seluruh kesaktian pusakanya, antara lain Cupu Manik Astagina, Lata Maosadi (Pohon Rewan / Pohon Kehidupan, Oyod Mimang, Kalpataru), dan Sesotya Retna Dumillah. Selanjutnya Sanghyang Nurcahya menciptakan Pustaka Darya, yang adalah serat (kitab) yang menyatu dalam budi. Serat (kitab) tersebut berwujud suara tanpa sastra (tanpa tulis).

Lahirnya Sanghyang Nurcahya

Kisah ini berawal pada Nabi Adam As yang memiliki anak 40 pasang kembar dampit. Diceritakan bahwa Nabi Adam hendak menjodohkan anak-anak kembar dampitnya dengan cara silang. Namun Siti Hawa, isterinya, menentang dan ingin menjodohkan anak kembar dampitnya dengan pasangan masing-masing. Alasannya sudah merupakan ketentuan takdir dijodohkan sejak dalam kandungan. Mereka saling berebut dan mengaku siapa yang lebih berhak untuk menentukan perjodohan diantara anak-anak mereka, maka mereka pun ingin membuktikan benih siapa sebenarnya yang lebih mempunyai peran atas terbentuknya janin. Dari mereka lalu kemudian sama-sama mengeluarkan rahsa "dayaning urip" (daya hidup).

Cerita Wayang Indonesia

Cerita Wayang Indonesia